My Love Story


Ketika bel berbunyi, menandakan waktu istirahat tiba. Seperti biasa anak-anak keluar kelas dan segera menuju ke kantin. Saat aku hendak membeli makanan tiba-tiba temanku datang, dia memberiku secarik kertas yang bertuliskan sebuah nomor telepon, dia berkata kepadaku “jika kamu menerima pesan dari nomor ini, balaslah”. Saat itu aku masih duduk di bangku kelas 2 SMA.
Ketika sepulang sekolah aku berbaring di tempat tidurku karena lelah. Tak lama kemudian ponselku berdering. Ada sebuah pesan. Aku merasa tidak asing dengan nomor tersebut, dan benar ternyata nomor itu adalah nomor yang di berikan temanku tadi siang.
Aku masih ingat sekali bahwa hari itu adalah hari jum’at. Setelah saling mengirim pesan, akhirnya kami pun memutuskan untuk bertemu. Malam datang, seperti janji kami, malam ini kami akan bertemu di suatu tempat, tidak begitu lama aku melihat seorang wanita cantik yang bediri di depan sebuah minimarket, aku dekati dia dan ternyata benar dialah wanita yang tadi siang mengirim pesan kepadaku. Aku bertanya kepadanya “siapa namamu?” ia memperkenalkan diri,namanya adalah Indah. Nama yang sangat cantik. Kami pun bergegas pergi, kami banyak mengobrol di jalan sampai aku tidak sadar bahwa waktu sudah larut, aku segera mengantarnya untuk pulang, sesampainya di rumahnya, aku pamit untuk segera pulang tapi entah apa yang terjadi denganku, aku tidak ingin pergi, aku tidak ingin berpisah terlalu cepat dengannya malam itu, akhirnya dia mengijinkan aku untuk menenaminya mengobrol. Ketika kami sedang bebicara, tiba-tiba di pikiranku terlintas “aku begitu nyaman berada di dekat wanita ini, aku tidak ingin berada terlalu jauh darinya”. Waktu terasa begitu cepat, dengan terpaksa aku harus pulang.

Di hari selanjutnya kami sepakat untuk bertemu kembali, kali ini aku menjemput dia tidak di rumahnya karena alasan tertentu,  aku menunggunya di ujung sebuah gang. Tak lama kemudian datang seorang wanita. Sederhana tapi cantik, dialah wanita yang kutemui kemarin. Kami keluar untuk yang kedua kalinya, kali ini kami berhenti di sebuah toko kecil, dia ingin melihat-lihat apakah ada sesuatu barang menarik baginya, ketika dia berdiri di sebuah rak, dia melihat sepasang cincin yang sangat menarik perhatiannya, cincin dengan lambing hati, aku bertanya kepadanya “ apa kamu mau aku belikan cincin itu?” dia menolak, aku pun tidak bisa memaksanya. Kami pulang.

Waktu belajar terasa sangat lama di sekolah, aku tidak sabar menunggu bel pulang berbunyi. Aku ingin membelikan sesuatu untuk Indah. Bel berbunyi, dengan buru-buru aku segera mengambil motorku di tempat parkir, aku biasa berkumpul dengan temanku sepulang sekolah tapi kali ini aku tidak bisa, aku sudah merencanakan ini dari hari kemarin, maaf teman. Aku menuju toko yang kemarin malam aku kesana dengannya. Dengan perasaan kawatir aku mencari cincin itu, dan aku temukan, cincin berlambang hati, aku bersyukur sekali cincin itu belum di ambil oleh orang lain. Tidak perlu berpikir panjang aku pun membelinya dan segera membawanya pulang. Di tengah jalan aku bertingkah seperti orang yang kurang waras, tersenyum senyum sendiri karena memang aku begitu senang waktu itu, aku tidak sabar ingin segera memberinya kejutan dan aku ingin tahu bagaimana ekspresi dia ketika menerima hadiah ini. Siang mulai berganti malam, aku pergi untuk menemuinya. Kali ini dia ingin mengajakku ke rumah temannya. Sesampainya disana, dia mengetok pintu, tapi tak seorangpun yang keluar. Kami menunggu di luar cukup lama. Saat kami sedang menunggu, aku baru ingat kalo saat itu aku membawa kejutan untuk dia, kemudian aku meminta tangannya, dia terlihat bingung, lalu aku memasangkan cincin di jari manisnya, aku tidak berkata apa-apa karena waktu itu aku juga bingung mau bilang apa, tapi aku senang ketika ia tersenyum waktu aku memasangkan cincin tersebut ke jarinya. Akhirnya kami pun pulang karena sepertinya temannya tidak berada di rumah. Di tengah perjalanan dia memberikan sebuah pertanyaan, “untuk apa cincin itu?”, aku bingung dan gugup untuk menjawab. Lalu dia memberi 4 pilihan jawaban, dan aku memilih jawaban yang terakhir,yang mempunyai arti “aku ingin kamu menjadi pacarku” dan cincin itu untuk menandakan bahwa kita resmi berpacaran pada tanggal 17 oktober. Waktu itu aku gugup sekaligus bahagia. Mulai saat itulah hidupku berubah menjadi lebih baik.

Mulai saat itu setiap pagi aku menjemput ke rumahnya untuk berangkat sekolah. Sebelumnya aku selalu berangkat ke sekolah sendirian dengan malas-malasan, tapi sejak saat itu aku mulai bersemangat untuk bersekolah. Suatu ketika hari senin seperti biasa upacara bendera rutin, aku terlalu siang menjemputnya, akhirnya kami telat mengikuti upacara, gerbang sudah di tutup oleh satpam sekolah, kami berdua pun harus menunggu upacara selesai di depan gerbang. Gerbang di buka, para siswa siswi yang terlambat di bariskan di depan gerbang, kami di hukum di suruh untuk berlari keliling lapangan, aku sangat merasa bersalah ketika melihat dia ikut berlari.

Ketika di sekolah, waktu jam istirahat aku selalu mencarinya, tapi karena aku masih malu aku hanya akan berada di dekatnya. Suatu ketika dia masuk ke kelasku untuk memberi pengumuman, aku terkejut sekaligus gugup, dan yang mulanya aku berpikir tentang pelajaran di kelas waktu itu, pikiranku langsung berubah tertuju kepada dia setelah dia masuk ke kelas.

Suatu hari aku pergi ke suatu kota dengan kedua orang tuaku, ketika sampai di kota tersebut mereka mulai mencari barang yang ingin mereka beli. Tapi sebelumnya mereka memberiku uang yang tidak besar jumlahnya untuk membeli makanan. Waktu itu aku sama sekali tidak ingin makan, tapi aku bingung akan aku gunakan untuk apa uang ini. Aku baru ingat bahwa dia sangat menginginkan sebuah boneka, tetapi dia tidak pernah mau aku belikan. Aku berpikir, lebih baik aku lapar tapi bisa melihat dia tersenyum. Di kota tersebut aku tidak membeli barang atau makanan apapun. Setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan, akhirnya aku dan orang tuaku sampai di kota tempat tinggal kami. Sesampainya di rumah aku beristirahat sejenak, tidak lama kemudian aku berganti baju untuk pergi ke sebuah toko boneka. Disana aku banyak sekali melihat boneka, aku bingung boneka seperti apa yang dia suka. Lalu aku melihat 2 boneka beruang, yang satu besar dan yang lainnya kecil. Aku berpikir, mungkin dia suka yang ini, aku ingin membeli boneka yang besar tapi aku melihat uang yang aku bawa tenyata tidak cukup untuk membelinya, dengan terpaksa aku membeli yang kecil, semoga dia suka. aku pergi menemui dia, kali ini aku menemui dia di rumahnya, tidak perlu menunggu lama aku segera memberikan boneka itu kepadanya, dia sangat senang sekali, seketika rasa lelahku setelah bepergian jauh hilang setelah melihat senyum cantiknya. Betapa bahagianya aku
Kami pun lulus dari SMA,  seperti biasa corat corat ala siswa siswi SMA pun terjadi. Dia menuliskan tanda tangannya ke bajuku, dia juga menuliskan ke bajuku nama Iendy singkatan dari Iendha dan Andy, menyenangkan sekali rasanya.

Setelah lulus kami berdua mendaftarkan diri di perguruan tinggi, ia mendaftar di perguruan tinggi negeri sedangkan aku swasta di kotaku. Tapi sayang sekali dia gagal di terima perguruan tinggi negeri tersebut, aku sedih sekali ketika melihat wajahnya kecewa melihat hasil pengumuman. Setelah lama ia menganggur, ia mendapat informasi dari kakak temannya yang memberitahukan bahwa sebuah perusahaan sedang membutuhkan tenaga kerja, aku ikut senang ketika ia mendapat kesempatan ini. Dia mencoba untuk mengikuti tes, dan tidak lama kemudian ia di terima. Dia senang sekali, aku pun juga senang. dia pun mulai bekerja.

Aku pun juga mulai memasuki masa – masa perkuliahan, masa – masa dimana semua hal sudah jauh berbeda dengan SMA, dimana kita harus benar – benar bersungguh –sungguh menuntut ilmu disana. Saat pergantian jam kuliah aku mengirim pesan kepadanya, bertanya sedang apa dia sekarang, sudah makan apa belum. Hal itulah yang membuatku bersemangat lagi setelah seharian bosan kuliah. Dia selalu dapat membahagiakanku dengan caranya, dan aku sangat nyaman dengan hal itu. Sepulang kuliah aku mampir ke salah satu kontrakan temanku, dia selalu mengingatkan aku untuk tidak pulang terlalu sore. Setiap sore pukul lima aku menjemputnya di tempat kerjanya. Suatu ketika saat aku hendak menjemputnya hujan gerimis turun, tiba - tiba kejadian yang tidak di harapkan terjadi, aku mengalami kecelakaan. Di pinggir jalan aku sudah tidak menghiraukan apa yang terjadi denganku, yang aku pikirkan hanya bagaimana caranya aku tetap bisa menjemputnya. Saat itu aku bingung dan badanku gemetaran karena kejadian tadi, di pikiranku sempat terlintas “dengan keadaan begini, lebih baik aku pulang saja” tapi kemudian aku berpikir lagi, “lalu siapa yang akan menjemputnya jika aku pulang?” akhirnya aku tetap berangkat menuju tempat kerjanya. Tidak lama menunggu dia pulang, seseorang yang sangat aku harapkan muncul, Indah. Dia sempat mengkhawatirkan keadaanku, tapi aku bilang kepadanya “tidak apa- apa, aku baik-baik saja” aku segera mengantarkan nya pulang. Di rumahnya, dia merawatku dengan sangat baik, sampai aku tidak merasa sakit, seolah-olah lukaku tidak pernah ada. Dia yang merawatku sampai aku sembuh.

Saat kuliah, aku mengikuti ekstrakurikuler pramuka yang mengharuskan aku untuk pergi cukup jauh meninggalkan dia untuk sementara waktu. Dia sempat melarang aku untuk ikut, karena mungkin dia mengkhawatirkan aku. Tapi apa boleh buat, aku tidak dapat membatalkan keberangkatanku, tapi dia sangat baik, dia mengijinkan aku untuk berangkat walaupun dengan berat hati, aku sangat berterima kasih padanya dan aku menghargai hal itu. Sesampainya aku di tempat yang di tuju, aku sempat sangat bingung, disana sama sekali hampir tidak sinyal, aku berpikir “bagaimana jika aku belum pulang tapi aku sangat merindukan dia?”. Beberapa hari kemudian, ada seorang teman yang mengabarkan bahwa dia mendapat sinyal di suatu tempat, tanpa berpikir panjang aku segera menuju kesana, dia harapan yang besar aku mencoba mengirim pesan ke dia, dan aku bersyukur sekali pesan itu terkirim. Dia menanyakan keadaanku, aku menjawab baik-baik saja. Aku lega pada hari itu, karena dengan pesanku aku tidak membuatnya khawatir. Setelah beberapa hari berada disana, akhirnya tugasku selesai dan aku pulang. Aku senang sekali, aku berharap ingin cepat sampai ke rumah dan bertemu dengannya. Ketika sampai di rumah rasa lelah menghinggapi tubuhku, telpon genggamku berdering, sebuah pesan dari dia, dia bilang sudah berada di dekat rumah untuk menjemputku. Aku menemuinya, kemudian dia bilang bahwa dia mengkhawatirkan aku, aku senang sekali waktu dia bilang begitu, aku berpikir selama ini hanya dialah yang mengkhawatirkan keadaanku. Kemudian kami pergi sebentar sekedar mengobrol untuk melepas rindu, rasa lelahku hilang seketika saat aku bertemu dengannya. Saat itu aku bersyukur, masih ada seseorang yang aku rindukan jika aku sedang berada di luar kota, dan ingin cepat-cepat pulang untuk menemuinya. Dialah satu-satunya alasan kenapa aku harus hidup di dunia ini sampai sekarang, yaitu untuk mencintai dan membahagiakan dia.

Malam ini aku ke rumahnya, tapi sepertinya dia belum pulang dari bekerja, akhirnya aku memutuskan untuk menunggunya sampai pulang. Tidak begitu lama dia datang, ia tampak begitu lelah. Terkadang aku merasa tidak tega, dia bekerja begitu keras sampai dia lupa memikirkan kesehatannya sendiri. Saat dia masih merasa lelah, dia masih sempat membuatkan aku segelas kopi pahit kesukaanku. Dia begitu baik padaku. Kopi buatannya adalah kopi paling enak yang pernah aku minum dan kopi seperti itu tidak akan kutemui di manapun.

Dan tiba-tiba keadaan berubah. Dia mulai sibuk dengan pekerjaannya. Tetapi aku senang karena ia masih mau menyempatkan waktu untuk bertemu denganku, tapi lama kelamaan dia sudah menjadi sangat sibuk. Akibatnya kami pun menjadi lebih sering bertengkar. Suatu ketika dia baru pulang dari bekerja, ada yang aneh dengan dia, dia mulai bersikap acuh terhadapku, dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama telepon genggamnya daripada mengobrol denganku. Kejadian itu berlangsung lama sampai pada akhirnya aku mulai bosan dan merasa sama sekali tidak di anggap, kemudian aku pergi dengan tidak mengucap kata sedikitpun, dia mulai mengejarku, dia bertanya apa yang sebenarnya terjadi denganku, aku sedikit memberi penjelasan, tak lama kemudian ia mulai meneteskan air mata, air mata itulah yang membuatku tidak bisa meninggalkan dia, tapi waktu itu aku sudah putus asa, aku tidak tahu lagi bagaimana menjelaskan apa mauku ke dia, aku hanya ingin sedikit di perhatikan, aku hanya ingin mempunyai sedikit waktu untuk mengobrol dengannya, berbicara mengenai masa lalu kami, masa depan kami, kenapa kami bisa saling jatuh cinta, dan masih banyak lagi hal yang kami bicarakan yang dapat membuat kami tertawa dan tersenyum bahagia. Dengan terpaksa aku pergi tanpa mengucap kata apapun, bahkan aku belum sempat bilang kepadanya, bahwa dialah satu-satunya hal yang paling berharga yang pernah aku miliki selama ini, dia mengenalkanku cinta yang tulus, mencintai dengan tidak memandang materi atau apapun, yang murni hanya cinta, dia mengajarkan banyak hal yang belum pernah aku tahu sebelumnya, dan itu sangat banyak merubah diriku hingga menjadikan aku yang sekarang menjadi pribadi yang lebih baik. Semua itu berkat dia. Sejak saat itulah hubungan kami berakhir walaupun tanpa ada salah satu yang mengatakannya dan mulai saat itulah kisah bahagiaku berakhir.

Suatu sore di saat aku sedang tidak mempunyai kesibukan apapun, telepon genggamku berdering, ada sebuah pesan dari Indah, aku cukup terkejut, kenapa dia tiba – tiba menghubungiku lagi, aku hanya mengira mungkin dia hanya ingin sekedar mengobrol denganku, tapi semua itu salah, dia sedang sakit, aku terdiam sejenak, aku hampir tidak mempercayai hal ini, dia meminta tolong kepadaku untuk mengantarkannya ke dokter nanti malam.

Malam tiba, aku dengan segera menjemputnya di rumah, ketika membuka pintu, dia terlihat sangat pucat, aku hampir tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat wajahnya yang sangat pucat. Tidak menunggu lama aku segera mengantarnya ke dokter, sesampainya disana aku hanya menunggu di tempat parkir, alangkah bodohnya aku waktu itu tidak mengantarnya sampai menemui dokternya. Setelah seperempat jam aku menunggu dengan rasa kawatir, dia datang dengan membawa sebungkus obat di tangannya dan berharap dia hanya mengalami sakit biasa. Kemudian kami memutuskan untuk mencari makan karena dia bilang belum makan selama seharian tadi. Dia sakit karena dia kelelahan terlalu sibuk bekerja dan jarang makan, dia tidak bilang tapi aku tahu itulah penyebabnya. Di sebuah tempat makan kami sedikit mengobrol, dan hal itulah yang aku rindukan dari dia, saat dimana kami bisa berbicara tanpa memperdulikan sekitar. Selesai makan, aku mengantarnya untuk pulang, di tengah jalan, aku terkejut, dia memelukku dari belakang, tapi untuk kedua kalinya aku melakukan hal bodoh, aku sama sekali tidak merespon, aku hanya diam dan tidak tersenyum sedikitpun, entah apa yang terjadi denganku waktu itu, tapi jujur aku menyesalinya.
 Keesokan harinya aku mulai merasa bosan di rumah, tidak ada hal yang berguna yang aku lakukan di rumah, tidak lebih dari sekedar tidur, melihat televisi, melamun. Aku putuskan untuk pergi bersepeda, ketika di tengah jalan, aku merasa ada yang mengikutiku di belakang, aku terkejut ternyata itu adalah dia, Indah. Aku berhenti sebentar untuk berbicara dengannya, dia ingin mengajakku ke rumah temannya. Sesampainya disana aku bertemu dengan teman-temannya, aku mendengar berita kurang baik dari salah seorang temannya, dia merasa telah melihat aku berboncengan dengan seorang wanita lain tadi malam, dan aku kaget, aku menjelaskan panjang lebar kepada dia & teman-temannya dan mencoba membuat mereka percaya karena memang aku tidak pernah dekat dengan wanita lain selain Indah. Di saat teman-temannya sedang mengobrol, dia berbicara kepadaku, dengan nada yang memohon, dia tidak ingin aku dekat dengan wanita lain setelah aku dan dia putus, dia belum mengijinkan dan belum merelakan aku mempunyai kekasih lain, lalu aku menjawab iya, karena saat itu aku juga belum bisa melupakan dia sedikitpun, masih ada rasa sayang dariku untuk dia. Dan satu hal yang sebenarnya aku ingin katakan waktu itu, sebenarnya aku masih sayang sekali dengannya, aku tidak ingin berpisah terlalu jauh darinya, saat itu aku hanya ingin meminta sedikit waktu untuk memperbaiki diriku dan emosiku yang selama ini membuat kami sering bertengkar. Tapi sebelum kata itu terucap dari mulutku, malam sudah larut, sudah tidak ada lagi alasan untuk menunda-nunda kami untuk pulang. Dengan terpaksa aku juga harus pulang, dan aku pulang tanpa menjelaskan hal itu sedikitpun ke dia. Sekarang hanya penyesalan yang aku dapat, aku tidak cukup berani dan tegas untuk mengatakan bahwa aku masih menyayanginya seperti saat kami pertama kali bertemu.
Aku sudah tidak tahu bagaimana kabar dia sekarang, sepertinya dia mulai sibuk dengan dunia barunya, dan sampai sekarang aku masih belum bisa mencintai wanita lain selain dirinya, seolah-olah aku menutup diriku untuk orang lain dan selalu terbuka untuk dirinya. Namun setelah perenunganku yang cukup panjang, aku sadar bahwa aku bukan lah siapa siapa lagi bagi dirinya, aku hanyalah aku yang tidak bisa membahagiakan dirinya seperti yang dia minta, mungkin aku memang pantas untuk di lupakan. Aku tidak mau menjadi beban lagi untuk dirinya.

Bagaimana pun kau Indah, kau pemarah, kau pencemburu atau kadang kau manja kepadaku, aku tahu bahwa itu adalah bentuk sayangmu padaku, namun sayangnya aku baru menyadari itu sekarang, saat aku sudah tidak lagi bersamamu dan aku rindu tentang kau dan semua sifatmu itu.kau adalah orang yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Yang pernah mengisi hidupku dengan tawa, sedih dan cinta. Aku harap kau sekarang sudah mendapatkan kebahagiaan dari orang lain. Aku harap kau sekarang sudah tidak mengenal kesedihan seperti kita yang dulu dan aku harap kau tidak salah memilih lagi seperti kau memilih aku dulu.

-Andy

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © / Andy's

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger